ADA 3 MACAM
BENTUK KEBENARAN
(No.2 dari) “ SERBA
SERBI ANGKA TIGA”
1. Kebenaran agama
yang bersifat mutlak
2.
Kebenaran
ilmu pengetahuan & teknologi (IPTEK) yang bersifat ilmiah
3.
Kebenaran
hukum perilaku manusia yang bersifat rasa keadilan dan pendidikan
Kebenaran adalah sesuatu yang sengaja
dibuat, digali, dan atau diciptakan sebagai petunjuk bagi manusia yang berakal
dan mau menggunakan akalnya, bagi orang yang berakal tapi tidak menggunakan
akal, maka tidak dapat mengikuti petunjuk tersebut (akan tersesat) seperti
kalau menggunakan perasaan, dan atau nafsunya. Kalau sesuatu terjadi tanpa
disengaja itu namanya KEBETULAN. Kalau orang mencari-cari alasan untuk
mempertahankan pendapat, kemauan dan nafsu tanpa harus melihat benar atau salah
itu namanya PEMBENARAN. Jadi KEBENARAN adalah petunjuk sama halnya dengan ILMU
PENGETAHUAN berbeda dengan kebetulan dan pembenaran.
Ditinjau dari sifat dan fungsinya maka
kebenaran dapat dibagi menjadi 3 bentuk kebenaran yaitu:
1. Kebenaran yang bersifat mutlak untuk
menyikapi agama,
2. Kebenaran yang bersifat ilmiah untuk
menyikapi ilmu pengetahuan & teknologi (IPTEK),
3 . Kebenaran
yang bersifat dengan rasa keadilan dan pendidikan untuk menyikapi hukum (perilaku manusia).
Sejatinya kebenaran adalah petunjuk bagi orang yang
berakal yang menggunakan akalnya, bukan menggunakan perasaan, naluri atau
nafsunya
kalau tidak menggunakan akal pasti akan terjadi salah nalar dan kesesatan.
Setiap bentuk kebenaran tersebut
mempunyai konstruksi sesuai dengan sifat dan kegunaannya yaitu:
A.
Kebenaran
Agama yang mutlak, landasan utamanya adalah wahyu ilahi (petunjuk tuhan)
terhimpun dalam kitab suci (Alqur’an) sesuai dengan perintah dalam Alqur’an
untuk tunduk dan patuh, serta taat kepada nabi, maka landasan kedua adalah
hadist nabi. Lalu yang ketiga adalah ijma para ulama (apabila diperlukan) hal
ini juga atas petunjuk nabi (berdasarkan hadist).
Kebenaran
Agama ini bersifat mutlak karena sebagai petunjuk Allah (perintah, larangan,
dan penjelasan) yang tidak ada kritik dan saran, tidak boleh diinovasi dan
dimodifikasi oleh siapapun karena tidak ada makhluk yang lebih pintar pada
Allah. Sama pintar saja tidak ada apalagi yang lebih pintar.selanjutnya umat
islam itupun tidak ada yang lebih pintar dari nabi soal agama ini. Karena agama
itu fungsinya adalah jalan untuk keselamatan dari dunia sampai waktu menghadap
Allah di akhirat nanti, saat itulah manusia menemukan bukti kebenaran agama.
Jadi konstruksi kebenaran mutlak adalah: 1. Kitab suci (Alqur’an), 2. Hadist
nabi, 3. Ijma para ulama, 4. Bukti (surga atau neraka). Kebenaran mutlak ini
berwarna dan berhiasan pahala, dosa, gaib, setan dan malaikat, dan bersifat
sakral. Serta sebagai petunjuk bagi manusia yang didapat karena diberi olah
tuhan bukan dibuat manusia sendiri. Jadi kebenaran mutlak adalah untuk
menyikapi kebenaran agama yang menempatkan bukti pada tujuan akhir (masuk surga
atau neraka)
B.
Kebenaran
Iptek yang ilmiah, landasan utamanya adalah dugaan-dugaan atau hypotesa, yang
selanjutnya ditindak lanjuti dengan analisa berupa pengukuran dan penghitungan.
Apabila setelah diadakan analisa ternyata akurat maka dugaan itu berubah
kedududukannya menjadi teori atau landasan teori. Selanjutnya dari landasan
teori ini diadakan pembuktian, lalu bila terbukti menjadi hukum atau rumus.
Jadi konstruksi kebenaran ilmiah adalah: 1. Dugaan atau hipotesa, 2. Analisa,
3. Teori. 4. Bukti, dan 5 hukum atau rumus.
Kebenaran
ilmiah ini tidak mengenal dosa, pahala, mengenal yang misteri tapi bukan yang
gaib dan sakral, tidak ada sangkut paut dengan setan dan malaikat dan sebagai
petunjuk bagi manusia yang didapat oleh manusia karena dicari sendiri,
fungsinya untuk menyikapi ilmu pengetahuan, baik yang menghasilkan teknologi
maupun yang tidak.
2.
C.
Kebenaran
hukum perilaku manusia yang berasa keadilandan pendidikan, landasan utamanya
adalah bukti kebenaran hukum ini adalah untuk menyikapi yang sudah dilakukan
(sudah terjadi) jadi harus ada bukti dulu apakah seseorang itu sudah berjasa
atau sudah melakukan kriminal. Bukti ini didapat dengan 2 cara: 1. Secara
langsung yaitu bila kejadiannya dalam kondisi tertangkap basah, atau tertangkap
tangan (istilah dari KPK) biasanya untuk kejadian yang tidak direncanakan atau
tidak disadari oleh pelaku. 2. Secara tidak langsung, yaitu harus dicari dulu
walaupun sudah ada terduga, terutama untuk kejadian yang disengaja/
direncanakan dan pelaku berusaha menghilangkan atau mengalihkan bukti.
Pencarian bukti harus diproses secara ilmiah tapi mutlak (tanpa keraguan, tanpa
rekayasa) berbeda dengan ilmiah untuk iptek, yang boleh direkayasa dan sifatnya
relative. Dengan demikian konstruksi kebenaran hukum ini ada 2 type, type
a.yaitu: 1.bukti, 2.sakasi, 3.alibi, 4.keputusan. dan type b.yaitu: 1. Praduga,
2.bukti, 3.saksi, 4.alibi, 5.keputusan.
Jadi ketiga macam kebenaran berdasarkan sifat-sifatnya
itu ada perbedaan dan ada persamaannya. Perbedaan kebenaran ilmu pengetahuan
dengan 2 bentuk kebenaran lainnya adalah hanya ilmu pengetahuan yang boleh
direkayasa sehingga terjadi inovasi, dan teknologi.
Perbedaan
sifat ilmiah dan sifat keadilan dengan sifat mutlak adalah yang ilmiah dan
berkeadilan itu bersifat atau terkandung hal yang relative, dan didapat karena
manusia mencarinya, sedangkan mutlak
berarti tidak relative, tidak boleh diganggu gugat, tidak ada kritik dan saran,
tidak boleh diinovasi dan dimodifikasi, didapat karena Allah mendatangkannya
melalui rasul-Nya. Persamaannya adalah semua
kebenaran itu adalah sebagai petunjuk bagi orang berakal yang menggunakan
akalnya,
dan semua kebenaran itu membutuhkan bukti tetapi dengan konstruksi yang
berbeda. Kebenaran hukum berpangkal dari bukti sedangkan kebenaran ilmiah dan
agama mencari dan menuju bukti.
Catatan:
Bagi
siapa yang tidak mengenal 3 macam kebenaran ini, dan salah dalam menyikapi
setiap bentuk dari kebenaran itu, di khawatirkan akan menjadi tersesat dengan
menjadi :
1.
Orang sawa’un dalam beragama (bersetatus TBC),
2.
Orang Pandir dalam berilmu pengetahuan,
3.
Orang zolim dalam menegakkan hukum.
Kita
harus menggunakan pola pikir yang benar, yaitu pola pikir konstruktif. Salah
satu dari 3 macam pola pikir manusia berdasarkan bukti dan alasan.