ADA 3 PILAR
EVALUASI UMAT ISLAM
(No.1 dari) “ SERBA SERBI ANGKA TIGA”
1.
Keimanan
2.
Hidayah
3.
Kebenaran
Rasulullah sudah berpesan kalau suatu
saat nanti umat islam itu akan terbagi 73 golongan, dari 73 golongan itu hanya
1 golongan yang selamat (masuk surga) sedangkan sisanya 72 golongan tidak
selamat (masuk neraka) Penggolongan ini adalah penggolongan di mata Allah dan
Rasulullah, bukan penggolongan dalam kaca mata umat yang membuat golongan
berdasarkan nama organisasi.
Masing masing umat islam yang tersebar dalam
73 golongan itu merasa dan berkeyakinan bahwa dia adalah bagian dari golongan
yang 1 (golongan yang selamat) tapi beranikah mereka mengevaluasi diri …?
(dengan 3 pilar evaluasi: 1. Keimanan, 2. Hidayah, 3. Kebenaran) Semua umat
islam dalam 73 golongan itu kalau ditanya
apakah mereka beriman..? mereka akan menjawab ya, saya beriman atau kami
beriman.
Benarkah kita beriman atau benarkah iman
kita .? kita semua harus berani dan mau mengevaluasi diri, saya benar beriman
atau iman saya benar karena mempunyai Hidayah. Kalau orang mengaku beriman tapi
dia tidak mendapat hidayah maka imannya itu hanyalah iman-imanan alias imannya
tidak benar atau dia tidak benar-benar beriman.
Selanjutnya kalau masing-masing umat itu
ditanya apakah mereka mendapat hidayah..? dengan lancar selancar dengan
pertanyaan (evaluasi) pertama, mereka menjawab saya mempunyai hidayah atau kami
mendapat hidayah.
Tapi benarkah kita mendapat hidayah,
(petunjuk)..? Sama dengan keimanan di muka kita semua harus berani dan mau mengevaluasi
diri apa benar saya mendapat hidayah, apa indikasinya,,? Siapapun tidak boleh
menyangkal bahwa orang yang mendapat hidayah itu adalah orang yang dapat
menangkap kebenaran. Benarkah seseorang mendapat hidayah kalau tidak dapat
menangkap kebenaran..?
Jadi ada 3 pilar evaluasi umat untuk
mengetahui apakah seseorang masuk golongan 1 atau golongan 72 yaitu: 1.
Keimanan, 2. Hidayah, 3. Kebenaran
Selanjutnya umat islam itu kalau ditanya
apakah mereka dapat menangkap kebenaran,,? Maka mereka menjawab tidak selancar
menjawab pertanyaan evaluasi pertama dan kedua. Walau mereka tetap menjawab: “
saya dapat menangkap kebenaran “! Padahal inilah evaluasi yang menentukan,
kalau seseorang memang dapat menangkap kebenaran maka dia harus dapat
menjelaskan:
1.
Apakah
kebenaran itu..?
2.
Apakah
ada beda kebenaran dan pembenaran..? dan apa bedanya…?
3.
Apakah
ada beda kebenaran dan kebetulan ..? dan apa bedanya..?
4.
Ada
berapa macamkah kebenaran itu..? (berdasarkan sifat dan fungsinya)
Catatan:
Umat
islam yang 72 golongan yang tersesat itu, tersesat karena tidak dapat menangkap
kebenaran secara sungguh-sungguh , karena tidak dapat membedakan Agama adalah
kebenaran mutlak. (mutlak berarti tidak boleh ada kritik dan saran, tidak ada
inovasi, dan modifikasi terhadap ketentuan agama yang merupakan Petunjuk Allah
yang Maha benar), berbeda dengan kebenaran lainnya (seperti ilmu pengetahuan,
hukum positive, adat, budaya) yang relative, sehingga mereka mempunyai status
bid’ah dan atau musyrik, 2 hal yang merusak kemurnian agama. Indikasi sesat
dapat dilihat secara jernih, dan seksama mereka terdiri dari orang bodoh merasa
pintar, dan orang pintar tapi berbuat bodoh.
Hal
ini terjadi karena tidak dapat menangkap kebenaran, terutama dalam memandang
Alqur’an sebagai kitab dan pelajaran yang nyata tidak mengenal isinya ada bab
gaib, ada bab syar’i ,dan ada bab ilmu pengetahuan. Ada yang harus ditangkap
dengan dalil (syar’i) dan ada dengan dalih atau penalaran (ilmu pengetahuan).
Kalau disamaratakan maka timbul bid’ah dan musyrik.
1
No comments:
Post a Comment